Dunia Itu Pendek, Yang Panjang Itu Angan-angan
Dalam menapaki kehidupan yang singkat ini, seringkali kita terbuai oleh angan-angan dunia yang fana. Dunia dianggap sebagai tujuan kehidupan. Padahal sebenarnya kita hanya melewati lorong waktu yang sebentar, lalu mempersiapkan diri untuk kehidupan yang panjang setelah kematian. Namun, ironisnya, seringkali kita terjerembab pada angan yang panjang lalu melalaikan beramal untuk akherat.
Diantara bentuk akhlak buruk yang dibenci oleh Allah ﷻ adalah panjang angan-angan. Karena panjang angan-angan atau Thuulul amal dapat memalingkan seseorang dari beramal untuk akheratnya. Allah berfirman,
Orang-orang yang kufur itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan, sekiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan, bersenang-senang, dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong). Kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya). ( Al Hijr: 2-3)
Al-Munawi mendefinisikan bahwa Thulul Amal adalah,
Terus menerus semangat dalam mencari dunia dan mencurahkan segala upaya untuk mendapatkan dunia, serta berpaling dari urusan akherat. (Mausu’ah Nudhrotin Na’im fi Makarimi Akhlakir Rosulil Karim 11/4857)
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa kebanyakan manusia terbuai angan-angan dan bahkan hingga ajal menjemputnya. Sebagaimana dalam hadis dari Buraidah -Radhiallaahu ‘anhu-,
Dari Buraidah—Radhiyallahu anhu—, ia berkata: “Nabi ﷺ menggaris beberapa garis, lalu bersabda, ‘Ini angan-angan (manusia), dan ini ajalnya. Ketika ia dalam keadaan demikian (mengejar angan-angannya), tiba-tiba datang kepadanya garis yang terdekat (ajalnya).” (HR. Al-Bukhari hadis no.6418)
Ironisnya, manakala manusia mendekati ajalnya di saat itu pula ia memanjangkan angan-angannya, bertambah keinginan untuk mendapatkan dunia dan rakus terhadapnya, kecuali orang-orang yang diberikan rahmat oleh Allah Ta’ala.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
“Hati orang yang sudah tua akan senantiasa seperti jiwa muda dalam menyikapi dua hal: cinta dunia dan panjang angan-angan” (HR. al-Bukhari no. 6420).
Ibnu hajar berujar,
Ada rahasia yang tersimpan dalam sebuah angan; sebab jika tanpa angan-angan, maka tidak akan ada seorang pun yang hidup senang, dan jiwanya tidak tentram dalam melakukan pekerjaan duniawinya. Sedangkan yang cela adalah sikap tak peduli dan tidak ada persiapan diri untuk menuju kehidupan ukhrawi. Barangsiapa selamat dari hal tersebut, maka tidak ada beban untuk menghilangkannya. (Fathul baari: 11/223)
Orang berakal adalah orang yang tidak tergiur oleh angan-angannya, tidak pula melupakan kenikmatan yang dijanjikan Allah ﷻ kepada setiap jiwa. Allah berfirman,
Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.(Ali Imron: 185)
Penyebab Panjang Angan-angan
Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah mengatakan,
“Ketahuilah bahwa sebab seseorang itu panjang angan-angannya ada dua, yaitu cinta dunia dan kebodohan.” (Mukhtashar Minhajil Qashidin: 368)
Akibat panjang angan-angan
Seorang yang memiliki panjang angan-angan lambat laun akan mengeras hatinya, malas dari ketaatan, menunda taubat dan tamak terhadap dunia, lalu lupa terhadap urusan akheratnya.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan:
“Perkara yang paling aku takutkan adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Adapun mengikuti hawa nafsu, ia akan memalingkan dari kebenaran. Adapun panjang angan-angan, ia akan membuat lupa akan akhirat” (Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’, 1/76).
“Sesungguhnya dunia ini telah bergerak pergi dan sesungguhnya akhirat telah bergerak datang, dan masing masing keduanya memiliki pengikut, maka jadilah kalian menjadi para pengikut akhirat, dan jangan kalian menjadi para pengikut dunia, karena hari ini adalah amal tidak ada hisab, sedangkan hari esok adalah hisab dan tidak ada lagi amal” (HR Bukhari)
Solusi Agar tidak mudah panjang angan
- Anggap dunia sekedar lewat saja
Dari Abdillah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merangkul bahuku lalu bersabda: ‘Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau orang yang hanya mampir di tengah perjalanannya’. Lalu Ibnu Umar mengatakan: ‘jika engkau ada di sore hari, maka jangan menunggu hingga pagi, jika engkau berada di pagi hari, maka jangan menunggu hingga sore. Manfaatkan waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, manfaatkan waktu hidupmu sebelum matimu’” (HR. al-Bukhari no. 6416).
Ibnu Rajab berujar, hadits ini merupakan dasar dalam memutus angan-angan, dimana tidak sepantasnya seorang mukmin menjadikan dunia tempat tinggal, tetapi hendaknya menjadikan keadaannya seperti seorang yang sedang dalam perjalanan dan bersiap kembali melanjutkan rihlahnya untuk mencapai tujuan. (Jami’ul Ulum Wal Hikam, 2/377)
Al Hasan menceritakan ketika Salman Al Farisi mendekati kematiannya beliau menangis dan berkata: “ Sesungguhnya Rasulullah meninggalkan pesan kepada kami agar menjadikan bekal dunia kami seperti bekalnya seorang yang safar”. Lalu beliau memperlihatkan apa yang ditinggalkan beliau sebesar beberapa puluh dirham. (Musnad Imam Ahmad: 5/438)
- Menjadikan hari-harinya selalu memberikan manfaat
Orang yang cerdas selalu memanfaatkan hari demi harinya, bisa jadi waktu yang tersisa hanya sebentar saja.
Ibnul Qoyyim mengingatkan,
“Apa yang telah berlalu dari dunia adalah mimpi, dan apa yang tersisa adalah harapan, dan waktu lenyap di antara keduanya” (Nudhratun Na’im, 10/4865)
Wallahu a’lam
Fachruddin Khusna As Sanawy