Antara Ilmu dan Adab
Jikalau ilmu itu dapat membuat seorang menjadi kokoh, maka demikian pula adab akan menghias pribadi seseorang dalam tiap tingkah lakunya.
Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu ketika menjelaskan ayat ke 6 dari surat at-Tahrim,
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka… (at-Tahrim:6)
beliau mengatakan bahwa cara menjaga keluarga dari api neraka adalah dengan menjaga mereka dari api neraka,
أَدِّبُوْهُمْ وَعَلِّمُوْهُمْ
Ajarkan kepada mereka adab dan ilmu (Tafsir al-Qur’an al’adhim, 8/167)
Para ulama’ salaf sangat perhatian terhadap kedua perkara ini. Diantaranya Imam malik rahimahullah pernah berkata kepada seorang pemuda:
تَعَلَّمِ اْلأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ اْلعِلْمَ
Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu
Abu Abdillah al Balkhi rahimahullah berujar,
أَدَبُ اْلعِلْمِ أَكْثَرُ مِنَ اْلعِلْمِ
Adab ilmu lebih banyak dibanding ilmu itu sendiri
Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhu berkata,
اُطْلُبِ اْلأَدَبَ فَإِنَّهُ زِيَادَةٌ فِي اْلعَقْلِ وَدَلِيْلٌ عَلَى اْلمُرُوءَةِ مُؤْنِسٌ فِي اْلوَحْدَةِ وَصَاحِبٌ فِي اْلغُرْبَةِ وَمَالٌ عِنْدَ اْلقِلَّةِ
Carilah adab, karena itu merupakan tambahan bagi akal, petunjuk bagi keluhuran budi, keramahan dalam kesepian, kawan dalam keterasingan, dan harta pada saat sedikit kekayaan. (Ghidza’ al Al-bab Syarh mandhumah al-Adab, hal. 27)
Abdullah bin Mubarak rahimahullah mengatakan,
لاَ يَنْبُلُ الرَّجُلُ بِنَوْعٍ مِنَ اْلعِلْمِ مَا لَمْ يُزَيِّنْ عِلْمَهُ بِالْأَدَبِ
seseorang tidaklah mulia dengan beragam ilmu selama ia tidak menghiasnya dengan adab
Abu Zakariya al-Anbari rahimahullah berujar,
عِلْمٌ بِلَا أَدَبٍ كَنَارٍ بِلَا حَطَبٍ وَأَدَبٌ بِلَا عِلْمٍ كَرُوْحٍ بِلَا جِسْمٍ
Ilmu tanpa adab sama seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu sama seperti ruh tanpa jasad. (al-Jami’ li akhlaq ar-Rawy, no. 12)
Mempelajari beragam adab sangat penting dalm kehidupan manusia, bahkan para salafus shalih lebih mendahulukannya daripada ilmu. Hal ini menunjukkan bahwa posisi adab itu menjadi bagian yang besar dalam poeai perhatian dari para ulama’. Namun sangat disayangkan pada akhir zaman ini, justeru porsi adab semakin merosot. Maka tidak heran jika kita banyak mendapati tidak sedikit manusia yang mengalami kekeringan adab dan lemahnya spiritual meski merasa telah banyak ilmu.
Bekasi, 24 Muharram 1443 H
Khusna Fachruddin